film indonesia
2 April 2008
beberapa hari ini saya merenung tentang film indonesia. orang-orang yang terlibat dalam perfilman nasional sibuk menyelenggarakan acara peringatan hari film. saya menulis di milis masgyarakat film indonesia. saya mempertanyakan apakah film indonesia itu ada? apa yang bisa dibanggakan dari perfilman nasional?
pertanyaan itu berdasarkan fakta bahwa semua yang berlaku pada perfilman indonesia sudah hancur luar dalam. apa lagi yang dibanggakan untuk peringatan hari film? bukankah pada akhirnya itu hanyalah romantisme masa lalu yang pernah singgah sejenak? generasi digital saat ini sedang merayakan euphoria teknologi dengan salah satu kredo yang pernah mereka sampaikan ” bikin film itu gampang!”. tetapi dalam euphoria yang merayakan serta menikmati segala sesuatu rasa instan itu serasa jauh dari sejarah film indonesia di masa lalu. romantisme usmar, djadug djajakusuma, sjuman dll hanyalah ingatan terhadap generasi pendahulu, ingatan yang dangkal. tidak berlakunya diskusrsus film indonesia mengakibatkan pemahaman generasi ini menjadi jauh dari akar film dan sejarah. generasi digital ini rentan oleh persekongkolan dan gontok-gontokan dengan praktek pertikaian yang tidak elegan. mudah marah-marah dan menghasilkan kualitas film yang semu.
Perusahaan Film Negara hancur, tidak ada data otentik yang dapat diakses publik berkaitan dengan produksi dan kerja-kerja di masa lalu yang padat dan politis. sejarah dihilangkan, karena pfn bangkrut. Production house swasta tidak dapat mensejahterakan crew nya. itu dapat terbukti jika di lokasi shooting, crew film atau sinetron mengeluh tidak adanya fasilitas yang memadai bagi mereka. jadinya perusahaan film hanyalah memproduksi film dan mengekploitasi tenaga kerja manusia. distribusi film indonesia hampir selama dua 20 tahun berl;aku tunggal. kalaupun kini ada blitz megapleks itu tidak pernah akan mewakili kepentingan apresiasi masyarakat penonton secara luas. bioskop 21 adalah bisnis eksibisi film yang dibangun di atas landasan politik dagang orang-orang di sekitar kekuasaan orde baru yang kolusif dan korup. jaringan bioskop 21 telah berdampak besar pada hancurnya distribusi dan eksibisi film lokal yang diputar di bioskop-bioskop lokal.
kebijakan penyiaran yang kapitalistik mengakibatkan perfilman nasional semakin luluh lantak karena tayangan audio visual kemudian menjadi sangat beragam di layar televisi swasta, masyarakat penonton dihujani eksibisi film asing Hollywood lewat televisi. iklan yang merajalela mengakibatkan konsumsi film lokal semakin surut bahkan hilang sama sekali. undang-undang perfilman tidak pernah dijalankan oleh pemerintah secara konsekuen. hancurnya perfilman nasional adalah bentuk kegagalan pemerintah yang tidak dapat melaksanakan amanat daripada undang-undang perfilman. pengkebirian hak dan kreatifitas pembuat film di masa orde baru telah mengakibatkan minimnya tema dan eksplorasi filmis. pada akhirnya film indonesia tidak dapt bersaing dalam kualitas dalam perfilman dunia. organisasi perfilman dibentuk untuk menyokong satu partai tertentu (golkar) sebagai mesin politik yang mampu memobilisasi massa untuk kepentingan politik kekuasaan. sekolah film hanya ada satu dan itupun awalnya adalah subsidi pemerintah daerah. adalah institut kesenian jakarta, fakultas film dan televisi yang kemudian melahirkan alumnus-alumnus ahli madya perfilman yang mengisi tenaga kerja di bidang perfilman. namun tidak ada upaya pemerintah untuk membawa ikj menjadi bagian dari kualitas sekolah film dunia, minimnya fasilitas dan terbatasnya kurikulum, telah membawa sekolah ini sebagai sekolah tua yang bukan hanya tua gedungnya namun tertinggal dari pergaulan sekolah film internasional. organisasi karyawan televisi tidak memberikan kontribusi besar yang seharusnya oraganisasi berikan kepada anggotanya. kompleksitas permasalahan dalam perfilman nasional tersebut di atas hanyalah sebagian saja dari persoalan yang ada dalam realitas Indonesia.
sekarang ini orang banyak nonton film, seperti film ayat-ayat cinta yang konon sudah menembus angka tiga juta lebih penonton. film yang kemudian diapresiasikan secara tunggal, dibumbui dengan strategi promosi, pastinya orang bilang sebagai film yang bagus. namun film yang bagus bukan hanya sekedar jatuh pada ruang apresiasi publik penonton yang awam, melainkan melalui kritik dimana kualitas sebuah film masuk dalam perdebatan-perdebatan. di sinilah kemudian penilaian itu dapat berlaku dengan seimbang.
dari dulu penonton disuguhkan pada ruang yang tidak majemuk. seperti diperkosa dalam ruang sinema untuk mengatakan film itu bagus. anehnya, ada film yang ngawur kemudian dibilang bagus, tanpa apresiasi, tanpa kritik. pokoknya bagus, karena penonton menyukai dan fanatik pada satu orang bintang filmnya. padahal selama lebih dari tigapuluh tahun, penonton indonesia diharu biru kualitas film hollywood yang terdiri dari berbagai kelas kualitas. kenapa kemudian ketika menghadapi apresiasi film indonesia tidak seperti ketika dengan film hollywood? ya nggak apa-apa sih…sah-sah saja. Akan tetapi quo vadis masyarakat film indonesia? mau ke mana?
inilah wajah indonesia, wajah yang sulit dan gamang
selamat mengingat usmar ismail, pembuatan film pertama 3o maret
PERLU ATRURAN JAM KERJA CREW FILM
CREW FILM SAMA DENGAN KULI BANGUNAN BAHKAN KULI PANGGUL LEBIH BAIK,AYO KITA AKSI TURUN KE JALAN LAWAN KAPITALISME SAYA SENDIRI ADALAH CREW FILM BAGAIMANA MAU BAGUS KALAU TIDAK PROFESIONAL
saya juga kru film!
dan menuntut duit lelah lebih, hahaha…
kru film indie.. hihihi