saksi


bandar udara yang sepi…
28 June 2008, 3:49 am
Filed under: Uncategorized

ini cengkareng. terminal 1b, pintu masuk untuk check in pesawat Batavia air. sebenarnya masih beberapa jam lagi. rombongan crew casting ketika cinta bertasbih belum datang. tetapi aku memang ingin daang lebih awal. pengen menghirup udara pagi bandara udara yang sepi.

perjalanan hari ini ke pontianak. ini adalah perjalanan pertamaku ke Kalimantan Barat. au pernah beberapa kali ke kalimantan Timur, Balikpapan, Malino dan paser utara. tentunya perjalanan kali ini akan membawa pengalaman tersendiri.

ketika cinta bertasbih menyelenggarakan casting di sembilan kota. aku kebagian surabaya, padang, dan kini pontianak. pengalaman yang menenangkan bisa terlibat dalam sebuah produksi film seperti ketika cinta bertasbih ini. belajar dari pengalaman orang-orang yang lebih awal berkecimpung di dunia film seperti chairul umam, rudi kroewet, el badrun, imam tantowi, pak wiryo, mak wieka dan lain-lainnya serasa berada dalam ruang kelas yang bebas untuk mengikuti pelajaran yang berharga. aku diajak ismail fahmi lubis alias ezther alias ete. kakak kelas yang baik memberikan kesempaan aku untuk bekerja dan belajar dalam proses pembuatan behnd the scene film ini.

sendirian datang ke bandara, naik taxi tanpa argometer karena si sopir maunya gak pake argo. huh! jakarta! di dalam taxi yang melaju santai aku ajak ngobrol pak ujang bendi si sopir taxi. obrolan yang ditanggapi keluhan persoalan ekonomi. harga bensin naik, setoran yang sering gak memenuhi target, kemudian ngobrolin jalan tol yang harga tiketnya terus menerus naik. ini realitas pagi jakarta. bahkan sebelum matahari terbit di ufuk timur, orang masih saja ngobrolin persolan ensin naik dan uang setoran.

bandar udara ini masih sepi. satu dua orang turun dari taxi atau kendaraan pribadi. membawa tas dan bawaannya. wajah mereka siluet terkena cahaya lampu tungtsen. di satu sudut beberapa pekerja bangunan sibuk dengan pekerjaannya merenovasi lantai marmer dengan mesin pemotong yang berisik. nampak sekian orang tertidur di bangu-bangku panjang teras terminal 1b.

ahhh…alangkah merdeka mereka tertidur dibuai mimpi metropolitan jakarta. sedangkan aku terserang insomnia.

kawan-kawan rombongan crew casting belum nampak juga. sudah pukul empat pagi kurang sepuluh menit. bandar udara masih sepi. satu dua orang datang. wajah mereka siluet. perjalanan…



mahasiswa, bbm dan riot
27 June 2008, 11:44 am
Filed under: Uncategorized

dua bulan ini berita media massa haru biru oleh berita mahasiswa, kenaikan bbm dan berbagai amok. saya jadi ingat tahun 1998. thun dimana semangat dan idealisme berkobar-kobar lebih dari apapun. sebagai mahasiswa dan sebagai pemuda yang rindu pembebasan.

kini setelah sepuluh tahun berlalu dan persoalan demi persoalan bangsa semakin tumpang tindih, sebuah pertanyaan besar muncul. bukan sebagai protes, bukan sebagai manivesto melainkan sebagai gugatan yaitu: kemana arah reformasi mau dibawa?

Indonesia adalah cita-cita maha besar dari suatu perjalanan sejarah manusia yang berhimpun dalam satu bangsa. membentuk dan mendirian negara, mempergunjingkan perbedaan dan sekaligus menerimanya sebagai keragaman. dan kini semua cita-cita besar itu semakin mendapatkan ujian yang tidak kalah besar. ujian untuk terus melanjutkan perjalanan atau berhenti untuk kemudian merekonstruksi kembali tujuan dan segala cita-cita itu.

menciptakan keadilan sosial, kesejahteraan sosial barangali untuk saat ini adalah utopia belaka. menciptakan masyarakat yang berdasarkan Pancasila dan undang-undang dasar 1945 tentunya adalah kespakatan yang harus dipahami sebagai tirakat besar. tiraka dari seluruh elemen negara, tidak hanya pemerintah melainkan juga seluruh rakyat dari sabang sampai merauke, dari kota laut hingga timor.

namun penciptaan itu bukan kemudian menjadkan Indonesia sebuah ladang besar tempat eksperimen kebijakan negara diberlakukan secara membabi buta tanpa mengetahui kebutuhan dua ratus juta lebih massa rakyat. harga bbm naik, harga kebutuhan pokok naik, analisa ekonomi dan politik menghiasi media massa, sulit menemukan bentuk kongkrit (nyata) dari perilaku kekuasaan yang setia pada janji dan sulit mendapati kebijakan negara yang kemudian berpihak pada rakyat.

mahasiswa tentunya adalah kekuatan massa aksi yang kritis. kekuatan massa aksi yang mampu menjebol benteng tirani sekuat apapun. kekuatan mahasiswa adalah kekuatan garda depan rakyat, mahasiswa lahir dari rahim rakyat. mahasiswa adalah representasi dari kekuatan rakyat, mahasiswa adalah suara rakyat itu sendiri. jika kemudian beberapa hari yang lalu mahasiswa melakukan pemberontakan di jalanan, melakukan pembalasan terhadap sarana pemerintah, merobohkan pagar gedung DPR/MPR, mengulingkan dan membakar mobil avansa pat merah, menghancurkan mobil karavan polisi lalulintas dan mensabotase jalur transportai utama jakarta, itu bukan suatu tindakan yang biadab, melainkan sebagai saluran aspirasi yang buntu yang coba disalurkan. anak-anak muda itu ingin bicara, memberikan peringatan kepada penguasa bahwasanya jalan kekuasaan ini sudah korup dan penuh dengan lendir-lendir dosa sejarah yang mencatat perilaku busuk para pejabat dan perilaku busuk para birokrat.

pemerintah dan pengasa negara tidak mampu melindungi rakyatnya dari dampak krisis global, mereka gagal memberikan ketetraman kepada rakyat karena berbagai kasus korupsi dan konspirasi politik yang memuakkan, pemerintah gagal mengemban amanat undang-undang dasar dan undang-undang negara sehingga rakyat kinberada di ujung tanduk penderitaan yang kekal. dalam hal ini mahasiswa turun ke jalan dan mengkritisi, mengingatkan bahwa jalan kekuasaan para penguasa negara republik Indonesia ini sudah menyeleweng. pemerintah tentunya keblinger.

Indonesia tidak boleh dijual kepada pasar bebas, kepada kesepakatan dunia WTO. Indonesia mesti menjadi negara berdaulat, dengan demikian kedaulatan ini hanya dapat dicapai jika pemeintah dan penentu kebijakan berlaku revolusioner. tidak canggung untuk membela rakyat.

mahasiswa, kenaikan harga bbm dan amok adalah wajah Indonesia hari ini. wajah yang penuh dengan pergulatan. quo vadis?



permata dan indra
2 June 2008, 5:32 pm
Filed under: Uncategorized

tempo hari saya pulang ke jogja, menempuh perjalanan dengan mengendarai mobil pribadi: corona dl 1981 200 cc. perjalanan 12 jam menuju jogjakarta. berangkat lewat jalur utara melalui semarang dan pulangnya melalui jalur selatan. ke jogja untuk datang ke bioskop lokal. bioskop itu adalah indra theater dan permata theater. tentunya menjadi pengalaman yang luar biasa. bisa datang ke ruang sinema, bebas duduk, bebas merokok dan menonton film semi blue buatan cina atau hongkong? dan serasa menyau dengan filmnya. nonton bersama puluhan orang yang setia menunggu sampai adegan terakhir dalam film. sesekali di dalam keremangan ruang sinema itu asap sigaret menyala, sesekali korek api terlihat berkilat, di dalam bias projector chingkang 4 produk cina yang dikanibalin itu, asap sigaret slowmotion melahirkan pemandangan yang romantik.

bioskop permata, dulunya bernama Luxor berdiri tahun 1952. saya bertemu dua orang projectionis bernama pak sugeng dan pak haryono. mereka sudah 30 tahun menjadi projectionis, pencatut tiket masuk atau ikut sebagai tukang parkir. ngobrol dengan mereka serasa kembali pada kurun waktu yang sudah lewat, dimana kejayaan bioskop lokal berikut film-film indonesia di dalamnya. pak haryono dan pak sugeng bercerita banyak tentang bioskop itu. kami diajak ke rang projection, pemandangan yang luar biasa. kusam dan usang oleh waktu. kabel dan sarang laba-laba, alat potong seluloid steenback dan potongan frame, fotokopian pakualam terlihat di antara potongan-potongan film. kabel di sana sini, jumper-jumperan nggak karuan, yang tahu bagaimana menghidupkan proector buatan cina itu ya pak sueng dan pak haryono saja. hidup itu so must go on…begitulah barangkali kedua kawakan projectionis itu menikmati hidup. bioskop Permata, jika di lihat dari hotel wilis di seberangnya, nampak tua dan rapuh, hanya mural yang menghias dirinya nampak muda.
bioskop indra terletak di seberang pasar beringharjo. bioskop dengan ruang screening yang besar. nampak sisa-sisa kebesarannya. seorang projectionis kami temui, sebelum tugas mas projections itu melakukan sholat dulu. ruangan di bioskop idra ini lebih semrawut. kabel malang melintang jumper sana jumper sini. dan senja itu film yang main masih sama dengan yang kami tonton kemarin bloodiy beast. dan mas projectionis memberitahu tentang reel seluloid yang berwarna hitam, artinya di situlah letak adegan syur itu. oooohhhh begitu? yayyayayya? aku baru tahu sekarang ternyata itu trik yang cukup baik buat jualan. yang aneh dari semua kejadian di kedua bioskop itu adalah setiap film hendak selesai, selalu saja ada orang datang, membawa film dalam bungkus terpal. ternyata setiap film selesai di bioskop permata, seorang “jhony” mengantarkan film itu ke indra begitu pula sebaliknya. traffic film berlaku dengan sepeda motor ataupun sepeda ontel. luar biasa.

saya melihat orang-orang nonton bioskop, saya melihat budaya sinema. orang datang, parkir motor atau sepeda, membeli tiket, menunggu dan masuk satu-satu. duduk dengan imajinasi masing-masing, lalu film diputar. tiket 5000 rupiah membawa mereka plesiran ke berbagai scene, ke dalam ruang-ruang action dan persetubuhan…film sepertinya tidak tuntas, saya menghitung ada sekian kane hilang. mereka menonton film yang tidak lengkap…



indonesia yang besar
27 May 2008, 8:30 pm
Filed under: Uncategorized

obrolan aku dengan seorang sutradara muda indonesia berbakat itu berlangsung malam hari. jam sebelas malam, di sebuah kompleks pertokoan yang sudah sepi. di lantai paling atas. dinding-dindingnya ditempeli poster dengan desain yang apa adanya, bebas-bebas saja. obrolan panjang soal film. apapun dikaitkan dengan film. film indonesia.

setiap kali membicarakan film, aku seperti masuk ke dalam ruang imajinasi yang luas. tidak mampu membendung segala keinginan mise en scene yang ingin tumpah dari kepalaku. begitu pula saat aku ngobrol dengan kawan itu. namanya hary dagu suhariyadi. filmnya yang cukup fenomenal adalah Pachinko and everyone’s hapy. kantor itu cukup luas. hanya ada beberapa meja dan peralatan ATK apa adanya. waktu aku naik ke lantai empat dalam bayanganku terlintas film chunking expressya wong kar way. entah mengapa begitu, tiba-tba saja terlintas.

dengan secangkir kopi, obrolan semakin seru. ujungnya di jam tiga pagi lebih sekian menit. hary dagu akan bikin film, udulnya cinta setaman. dari apa yang dia ceritakan ke aku malam itu, nampaknya film ini berisi kerusuhan hidup yang menghiasi indonesia dalam keseharian. pernak pernik peristiwa besar yang direpresentasikan dari sekian chapter. lonte, homo, kuli, keliaran, enyakit kelamin, kemabukan, huru hara, eksploiasi manusia atas manusia, sex keliaran… dan aku teringat tanah abang. laboratorium sosialku yang sekian tahun ini aku tinggalkan. tanah abang yang kelam, yang menghilankan perjakaku, yang menghantar aku mengenal dunia jakarta yang kelam ini hingga ke keraknya yang ganas.

indonesia grande, demian hary dagu memberikan judul filmnya. indonesia grande adalah indonesia besar, dari sabang sampai merauke, yang baru saja memperingati 100 tahun kebangkitan nasional dengan gegap gempita, peringatan yang dirayakan dengan iklan-iklan megah di televisi dan penampilan beberapa politisi sebagai bintang iklan yang intinya tetap dagangan politis. indonesia grande adalah indonesia sebagai cita-cita besar, dimana manusia dan cita citanya menjadi benda besar dengan samudera, pegunungan, tambang, berikut hutan dan kekayaan alam berlimpah di dalamnya. indonesia adalah benda raksasa, sebuah negara yang teapung, 3000 lebih pulau dalam lingkar luas samudera, seperti kapal induk dan ribuan sekoci di sekitarnya. indonesia yang besar itu terus menerus digerus oleh karat besi tua yang dari tahun ke tahun semakin rapuh oleh tekanan ekonomi dan mentalitas yang bobrok. semuanya menjadi komoditas, barang dagangan yang selalu laku dijual, propaganda penguasa, kotbah kaum ulama, terorisme dan kekerasan, hak asasi manusia maupun demokrasi tumplek blek jadi satu adonan yang meriah. indonesia grande adalah wajah dari suasana yang kacau, indonesia grande adalah indonesia to day, warta berita yang selalu dilihat sebagai kriminal dan chaos, simpang siur antara ketegangan dan keindahan. estetita indonesia grande adalah kawinnya realisme dan sosial. bercumbunya estetika bunga bangkai dan sedap malam yang aduhai wangi serta sedap dipandang. ngobrol dengan hary dagu seperti beremu rangkuman berita pos kota, koran lampu merah dan lputan kriminal di televisi. suatu hal yang setiap hari dimakan bangsa ini, lauk pauk kekerasan!

aku suka mendengarkan cerita hary dagu. kegelisahannya seperti mampir di sajak-sajak chairil maupun tulisan-tulisannya iwan simatupang. bergelora tetapi bisu, mengamuk tetapi rentan, menghibur tetapi subversiv. yang paling mengejutkan aku adalah ketika kawan satu ini bicara tentang film as ideology. aku seperti melihat cermin di depan wajahku. film sebagai ideologi di sini alangkah jauh dari popcorn dan tiket cetakan komputer, dengan ruang gelap yang berac dan seting dolby suround di ruang-ruang bioskop 21. aku menterjemahkan apa yang hary dagu sampaikan. mencoba memaknainya. Indonesia to day, Indonesia grande, like is cinema!!!

di salah satu sudut ruangan, selembar foto pemain berukuran 4 x 6 beridentitas seorang laki-laki tertempel dengan besi steples nempel di jidatnya…



indonesia tengah malam
25 May 2008, 4:50 pm
Filed under: Uncategorized

beberapa pom bensin yang saya lewati nampak padat dengan antrian sepeda motor dan mobil. orang-orang antri membeli bahan bakar. bensin atau solar, keduanya biasa dengan mudah dibeli di SPBU. ini adalah pemandangan ke sekian. dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, sejak perubahan pemerintahan orde baru ke orde reformasi 1998, pemandangan semacam itu hampir menjadi pemandangan umum dalam setiap periode pemerintahan. gus dur, megawati atau sby. kemudian berbarengan ribut di berita-berita televisi dan radio, menyampaikan bentrokan aparat keamanan dan mahasiswa, BBm adalah bahan bakar yang bukan hanya menggerakkan mobil dan mesin motor, akan tetapi bbm adalah bahan bakar politis yang dapat memicu amarah dan konflik sekian pihak yang berkepentingan.

indonesia tengah malam adalah mimpi buruk, perihal sikap pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. mimpi buruk karena kebutuhan pokok akan ikut naik, biaya tranportasi vital akan ikut naik, kemudian rakyat akan menjalani hari-hari dengan daftar kebutuhan yang mahal. pemerintah sungguh berani, mahasiswa juga berani. turun ke jalan dan emnuntut penolakan kenaikan harga bbm adalah sepeti membentur tembok. konsekuensinya memang begitu. krisis global. nilai rupiah dan minyak dunia, sistem perekonomian yang rapuh semua berhubungan bagai benang ruwet yang harus diurai satu per satu. lantas orang-orang kembali pada realitas yang semakin panas.

indonesia tengah malam adalah umpatan kesal yang terdengar di sudut-sudut gang, perempatan-perempatan dan bisikan di ruang tamu yang hampir tak terdengar. menggerundel bagaikan suara lebah, tak jelas maknanya. ketika bulan setengah buah melon, di televisi pemirsa di rumah melihat angkara murka.  gerundelan orang-orang mulai semarak. susu balita, beras, angkot, lauk pauk, sandang, pangan papan…

pagebluk istilah orang jaman dulu. panen gagal dan penduduk desa jatuh dalam kelaparan dan penyakit. mandeg dan matinya kesejahteraan. sulit lagi menemukan kopi dan teh di ruang tamu. air putihpun berubah pahit karena beban hidup semakin menghimpit. di pojok-pojok rumah kontrakan yang pengap, di bawah siluet lampu-lampu halte, di ujung perempatan dimana terdengar suara gitar yang sumbang, di remang sekat-sekat pasar bau arak murahan. hidup menjadi suram. manusia mebicarakan hal-hal yang suram. bunuh diri dan pembunuhan. semuanya berbaris antri menjadi berita koran sekaliber pos kota. bersanding dengan iklan pegadaian dan jual beli barang murahan.

indonesia tengah malam adalah mimpi buruk…



mei 1998
12 May 2008, 7:45 pm
Filed under: Uncategorized

dalam alam bawah sadar saya tidak akan pernah saya lupa bulan mei 1998.

peristiwa besar yang menghantar perubahan mendasar pada perjalanan bangsa dan negara republik indonesia, tumpah darah dan tanah air saya. 12 mei, ketika senapan menyalak di semanggi, saya ada di bilangan tanah abang. di hotel jati, bersama veteran angkatan 66 yang tak dapat kue pembangunan.

di hari itu, rakyat marah, tidak tertinggal saya dan abang-abang angkatan 66 pun marah pada militer dan polisi yang telah tega membunuh mahasiswa. kami menghantar karangan bunga esok harinya. dan benar-benar hari itu mencekam. ribuan rakyat berkumpul di sepanjang jalan, entah siapa yang pegang komando. mahasiswa di dalam kampus trisakti terus tercekat dalam imajinasi tiananmen. mahasiswa melihat darah, rakyat melihat darah, seharian semalaman televisi tak ada habisnya memutar lagu gugur bunga dan berita duka. lima mahasiswa trisakti mati ditembak aparat keamanan. jakarta geger, jogjakarta geger, surakarta, surabaya dan kota-kota di panatai utara geger. jalur distribusi ekonomi mulai terganggu. massa marah!

dan kami melihat istana negara sepi, hanya ada barisan blokade aparat bersenjata, kostrad dan kopasus, tvri dan rri terlihat siluet warna loreng. hampir tidak bisa membedakan mana marinir, mana kostrad mana kesatuan yang lain? dari mana, siapa? yang saya tahu, jakarta terus geger dan kerusuhan di depan mata, menjalar ke mana-mana menghancurkan dan membumihanguskan segala macam yang berbau cina. toko-toko mulai tutup, orang-orang menulis muslim atau pribumi. mei adalah kelam, sejarah yang hitam dalam perjalanan indonesia menjelang kejatuhan rejim soeharto.

mei 1998 tersimpan rapih dalam memori saya, catatan demi catatan saya tulis sepanjang hari. saat itu, dunia ini seperti kiamat. kebakaran, penjarahan, huru hara meletup seperti tabung gas yang jebol. nyalak senapan setiap waktu terdenagr. ada berita simpang siur, cina diperkosa, cina dirampok, orang terbunuh, swalayan terbakar, mahasisewa dan rakyat tumpah ke jalanan. dan saat itu gedung dpr/mpr adalah sasaran yang dekat. mahasiswa dan rakyat merengsek maju. tidak lagi takut apa itu peluru dan tank. tidak takut lagi apa itu mati. hidup terasa sudah sedemikian sulit masa itu, tidak lagi takut mati karena peluru atau granat. maju terus melawan militer yang pembunuh mahasiswa.

saya berada di antara massa. dihujani peluru dan gas air mata. saya mendengar teriakan yang pedih. dari kerongkongan saya sendiri yang parau. gas air mata dan rentetan peluru itu mencekik salurah pernafasan dan pendengaran saya. tetapi ini kemudian menjadi pengalaman yang kesekian. sebelumnya di bulan april, seorang mahasiswa di jogja juga mati karena siksa tentara di jalanan, tidak bisa dilupakan begitu saja. seorang moses gatotkoco tewas karena kekerasan militer, saat itulah pertama kalinya mahasiswa membakar gambar soeharto. persitiwanya di bulaksumur. mei 1998 adalah hal yang penting dalam hidup saya. peristiwa yang penting. saat itu yang ada dalam benak saya adalah revolusi sudah tiba. perubahan di depan mata. menuju indonesia makmur aman dan sentosa.

kini sepuluh tahun kemudian, setelah melewati masa-masa sulit. melewati peristiwa demi peristiwa sejak kejadian penting itu. peristiwa semanggi dan seterusnya, menginjak sepuluh tahun sesudahnya. indonesia berubah semakin terpuruk. gawang ekonomi, stabilitas nasional hankamrata bobol terus terusan. seperti tidak ada orang pintar di negeri ini. semuanya menjadi gagal dan gagal. hutang dan hutang, kemudian ambles dan terpuruk. kejadian bencana alam dan kelaparan, penistaan dan huru hara terus berlangsung. saya menganggap sepuluh tahun ini, dalam peringatan tewasnya lima mahasiswa tri sakti hari ini, semangatnya sudah berbeda. sepuluh tahun membiarkan indonesia terpuruk tanpa keadilan dan pemerataan kesejahteraan. negeri ini terus menerus tunduk pada kepentingan modal dan investasi yang menggadaikan negara dan rakyatnya. reformasi total gagal total. dan hari ini adalah peringatan atas kegagalan itu.

saat itu ketika hari berikutnya mahasiswa menguasai gedung dpr/mpr, saya membawa sebuah anak tangga, menjebol anak tangga itu dan mengangkatnya ke arah belakang gedung hijau. bersama mahasiswa-mahasiswa berjaket alamamater hitam, saya memasang anak tangga besi itu, saya pertama kali naik, seorang wartawan AFP mendokumentasikan peristiwa itu. dan pertama kalinya dalam hidup saya, menyaksikan ribuan massa mahasiswa di lapangan bawah dengan warna warni jaket almamaternya. saya mengepalkan tangan, beteriak teriak tak karuan. mengumandangan revolusi, mengumandangkan semangat aksi melawan!

hari ini saat saya mengenang itu, jakarta terus berubah. tak tertarik lagi saya memperingati peristiwa itu di jalanan. sebab, jalanan sudah tiak sakti lagi. jalanan berubah jadi konspirasi elitis yang memuakkan.

tadi pagi saya buka koran tempo, sarbini, alex, ardian, syafik dengan foto tertanggal 6 mei 2008 terpajang dengan mimik muka masing-masing. ditulis di situ mereka adalah tokoh-tokoh penggerak massa aksi sepuluh tahun lalu. saya rasa, dunia terus berputar, iklan di jalanan merebak seperti kacang goreng. besok sehari lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, tiga bulan lagi, setahun lagi, tahun depannya lagi, orang sudah makin lupa dengan ibu-ibu kampung yang bikin dapur umum serta sopir-sopir mikrolet dan metromini, kopaja yang dengan tulus iklas sempat mengantarkan mahasiswa memasuki gerbang perubahan. kini bensin makin mahal, solar makin mahal. keluarga kita terancam kelaparan dan putus sekolah…

quo vadis reformasi? fatamorgana!



30 tahun sudah
22 April 2008, 1:11 pm
Filed under: Uncategorized

tanggal kelahiran, aku di pondok halimun pada saat 30 tahun itu datang. bersama kawan-kawan crew film “pencarian terakhir”. tidak ada perayaan besar apalagi sekedar motong kue ulang tahun. si ewek kawanku menyiramkan air dingin pada saat aku baru saja terlelap tidur. kaget bukan main, tapi tersadar bahwa aku kini telah berumur 30 tahun.

beberapa hari sebelum tanggal 17, menjelang keberangkatan ke lokasi shooting, ilun menghadiahkan jam tangan g shock buatku. kado istimewa yang membuat aku terharu. hadiah ulang tahun, jam tangan yang akan mengingatkan aku pada waktu. tentunya 30 tahun bukan lagi untuk bermain-main. menentukan pilihan demi pilihan dalam hidup adalah keharusan.

di umur 30 tahun ini muncul bayangan-bayangan yang tidak pernah muncul sebelumnya. brumah tangga…

banyak orang mengatakan menikah dan berumah tangga itu adalah ibadah. tentunya yang dicari adalah amalan yang baik dan kebajikan serta hikmah dalam berumahtangga. membangun taman kecil bersama istri dan anak. menikmati kebahagiaan demi kebahagiaan, menghadapi tantangan demi tantangan. hidup kemudian tidak lagi sendiri. tidak lagi bisa leluasa berpetualang. hidup sudah harus tertata dan menjawab konsekuensi. ibadah, melaksanakan fitrah sebagai manusia.

cinta adalah modal awal untuk berumah tangga. cinta dan bekerja keras. inilah 30 tahun, hadirnya kejutan-kejutan yang muncul begitu saja tanpa undangan, menjadi menausia sejati, menempuh hidup yang beraneka warna…selamat ulang tahun rudi. tempuhlah hidup dan dinamikanya dengan gagah berani dan bersahaja.

terimakasih Gusti Allah yang memberikan hidup dan nikmat kepadaku. segala puji dan syukur aku panjatkan ke harirat MU



ayat-ayat cinta
17 April 2008, 3:21 am
Filed under: Uncategorized

menembus tiga juta penonton indonesia, ini adalah satu prestasi besar dalam sejarah perfilman di indonesia. jumlah itu masih konon dan harus di periksa ulang apakah benar atau tidak?

tetapi film ayat-ayat cinta adalah fenomena. film yang dibiayai oleh manooj punjabi dan damoo punjabi itu seperti kacang goreng. garapan sutradara hanung bramantyo dan sinematografer muda berbakat faozan rizal ternyata mampu menghipnotis orang-orang untuk  hadir ke gedung bioskop. di tengah budaya televisi, internet dan media online saat ini, tentunya kehebohan ayat-ayat cinta adalah kejadian yang luar biasa.

barangkali hebohnya hampir sama dengan ayat-ayat setannya salman rusdie. di indonesia saat itu reaksi keras muncul dari berbagai pihak dari organisasi agama tertentu yang menentang novel yang difatwakan sesat itu. kali ini adalah ayat-ayat cinta, bercerita tentang cinta, bermain-main dengan cerita cinta dan menjual cinta melalui karcis-karcis sobekan di ruang-ruang bisoskop 21.

di tengah persoalan indonesia yang sumpek dan penat, harga minyak tanah, minyak goreng dan kebutuhan pokok masyarakat melambung tinggi, di ruang sinema itulah masih dapat terlihat orang menangis. yang menjadi aneh dan kuatnya sihir film ini ternyata mampu membuat mata presiden dan wakil presiden menangis, haru biru dalam kepiluan menghayati cerita. aneh karena rakyat lapar, anak-anak tak sekolah, rakyat sakit dan kurang giszi tidak membuat presiden dan wakilnya menangis. ini di ruang sinema mereka meneteskan air mata. rasanya indonesia ini seperti roman picisan, sekali tersentuh sudah itu nangis dan terharu, lupa realitas, lupa kerja harus selesai.

tetapi paling tidak ini adalah hiburan. drama yang menyajikan cerita cinta dan tragedi. apa sih yang tidak kontroversial di indonesia? film inipun jatuh dalam pembahasan yang kontroversi. beberapa pihak tak puas dengan ending filmnya yang dapat diartikan persetujuan pada poligami, ada pihak yang lain yang ngefans berat pada film ini sebagai alternatif yang baik daripada film-film hollywood yang dibuat oleh orang yahudi, ada juga yang biasa-biasa saja malah tidak menanggapi, alasannya semua ini nggak penting. di negara demokratis ala indonesia seperti ini wajar-wajar saja, semua orang boleh berpendapat, semua orang boleh bicara, boleh berbagi cerita dan apa saja bebas. termasuk mengapresiasi sebuah film bagus maupun jelek, termasuk mengkritisi film secara ilmiah maupun pengalaman sebagai penonton belaka. sah-sah saja.

ayat-ayat cinta bukan menarik sebagai film, bagi saya di luar film ternyata ada sisi menarik. santri-santri perempuan dan lelaki, remaja dan dewasa berbondong-bondong datang kegedung bioskop beli tiket, yang nggak kebagian menunggu giliran. film ini seolah adalah penyegar dahaga, mungkin akibat situasi yang monoton. mononton dalam pengertian film hanya menyajikan cerita drama biasa, horor yang tidak serem, atau komedi yang tidak lucu dan malah terjebak dalam persoalan klasik film indonesia di sekitar bupati (buka paha tinggi-tinggi) atau sekwilda (seputar wilayah dada)*

indonesia butuh alternatif, ayat-ayat cinta mungkin dianggap berpihak pada ruang alternatif itu, tetapi mesti hati-hati juga mempersoalkan alternatif. bagaimana mungkin menjadi alternatif kalau md pictures ternyata adalah rumah produksi yang sama dengan mesin uang, dagangan yang diperjual belikan sama dengan kacang goreng atau kerupuk kaleng. tentunya ini juga bukan alternatif, karena alternatif harus berani menjadi ruang sepi dan menyendiri.

lalu apa itu ayat-ayat cinta? mungkin tidak jauh dari kehebohan-kehebohan belaka. tak ada bedanya dengan riuh rendah infotainment yang tiap hari mampu mengombang-ambingkan massa kepada gosip-gosip yang produktif. produktif pada pelupaan. bahwa ada yang sedang menggejala, penyakit sosial yaitu demam film dakwah. itu saja…



to mompalivu bure
11 April 2008, 9:42 pm
Filed under: Uncategorized

inilah kisah orang-orang pencari garam…

to mompalivu bure adalah ungkapan bahasa wana, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia berarti orang-orang pencari garam. akhirnya film itu ditayangkan perdana di aksara bookstore kemang, dihadiri sekian orang yang senang menonton film dokumenter. sebagian besar dari mereka adalah pekerja lembaga swadaya masyarakat dan lembaga founding. setelah pemutaran film dilakukan diskusi dan suasananya jadi cukup meriah. saya agak kesulitan menjawab pertanyaan dari ikwan Wahid dan ikwan dari universitas islam nasional, semuanya harus saya jawab dari sudut pandang keagamaan dan demokrasi…lhah??? nyambung apa nggak ya?

film ini mengisahkan kehidupan yang tengah dijalani orang-orang wana yang tinggal di marisa, kayupoli dan toronggo. tiga wilayah tersebut merupakan wilayah di dalam dan sekitar cagar alam morowali sulawesi tengah. saya, erwan effendi, ari rusyadi dan seorang relasi dari yayasan shabat morowali bernama ali tinggal hampir satu bulan di pedalaman sulawesi tengah untuk mengumpulkan data audio visual berkaitan dengan kehidupan, aktivitas dan apa yang tengah dihadapi orang-orang wana.

pengalaman yang luar biasa manakala saya bertemu dengan orang-orang suku wana. sebagai penghormatan terhadap eksistensi mereka, saya setelah ini akan menulis mereka sebagai suku Ta. di dalam hutan belantara morowali, saya dapat belajar banyak tentang pola hidup mandiri, mengolah alam dan menghormati alam, mengembalikan apa yang alam berikan dengan menjaga alam. berperilaku jujur dan sederhana. bekerja dan bernyanyi, bergembira setiap hari. walaupun kemudian pada kenyataannya ketika mereka bersentuhan dan menjalin hubungan sosial ekonomi dengan dunia luar wana, pilihan yang harus diterima adalah hidup dalam situasi modern yang menggerus apa saja yang mereka pertahankan. pola ekonomi modern dan konsumsi membawa mereka pada pilihan yang gamang.

kerumitan dan tumpang tindaih persoalan kami dapati di morowali, benturan tradisi dan modernitas, benturan kepentingan komunitas dan kepentingan di luarnya. praktek demokrasi modern yang timpang, ekspansi organisasi agama-agama luar wana yang terus menerus marayu dengan segala propaganda keselamatan. keterlibatan lsm (lembaga swadaya masyarakat) yang dominan, kemudian saya dapat melihat dari segala kerumitan itu bahwa komunitas wana kemudian harus merelakan segala potensi dan kekayaannya untuk menjadi bagian dari sebuah imajinasi: INDONESIA.

sebagai suku bangsa minoritas, pilihan untuk terlibat dalam percaturan sosial dan negara adalah pilihan yang berani. pada awalnya adalah hasrat akan rasa untuk mencari garam, bertemu dengan sarung dan kemudian sarung menjadi sarana adat mereka. perjumpaan yang instens dengan dunia luar wana membawa pengaruh besar, garam kemudian bukan lagi sebagai garam yang asin, rasa itu kemudian berkembang menjadi sekolah, keikutsertaan dalam oraganisasi agama luar wana, bekerja di perkebunan, pemilihan umum dan berbagai bentuk realitas atas nama modern.

garam adalah sejarah yang runut dari keinginan, hasrat, rasa, kebutuhan dan keterlibatan di dalam modernitas. pada akhirnya benteng pertahanan tradisi yang tertutup semakin terbuka dan lumer. garam bisa saja diterjemahkan sebagai dosa peradaban, garam seperti buah koldi yang ketika dimakan mengakibatkan manusia terbuang dari eden, terperosok ke bumi. menjadi bagian dari ruang dan waktu yang terus menerus menggerus manusia dalam penderitaan. garam adalah dosa peradaban. saya sendiri merasa menjadi bagian dari runutan sejarah peradaban yang kemudian hidup dalam alam modern yang gagap. saya adalah runutan dari mata rantai pencari garam yang kini hidup di antara garam dunia. hidup  di antara kebutuhan yang praktis dan pragmatis. saya dapat belajar banyak dari orang-orang wana, merunut sejarah nenek moyang saya, merunut sejarah peradaban yang berbenturan satu sama lain. seringkali hasrat mengakibatkan manusia lumer dalam pragmatis tindakan…

to mompalivu bure adalah kisah orang-orang pencari garam, dunia terus berputar dan arus berbalik. kerinduan untuk pulang pada alam yang menyediakan segala kebutuhan manusia semakin saya rasakan semakin jauh. arus balik peradaban itu mungkin terjadi setelah kutub es antartika semua lumer mencair… 



di mana mahasiswa indonesia hari ini?
9 April 2008, 10:53 pm
Filed under: Uncategorized

saya terkejut ketika di warung tegal mendapati harga gorengan begitu mahal. dua lembar tempe tepung goreng kini berharga seribu lima ratus rupiah. kerupuk bulat seribu rupiah, kerupuk dalam kemasan plastik yang hanya terdiri dari beberapa keping kini sudah berharga limaratus rupiah. saya juga melihat warteg itu kini tengah berbenah. mereka mengganti kompor minyak tanah dengan kompor gas elpiji warna hijau. sungguh luar biasa keadaan di tahun 2008 ini, harga kebutuhan pokok terus membumbung tinggi, beras, telur, minyak goreng, tepung, cabe…

di pom-pom bensin terpajang spanduk dengan berbagai tulisan yang mengajak rakyat membeli bahan bakar non subsidi. ada yang tertulis begini : BAHAN BAKAR BERSUBSIDI HANYA UNTUK MASYARAKAT YANG TIDAK MAMPU”.lantas saya bertanya, seberapa banyak masyarakat yang tidak mampu? bukankah orang-orang sekarang ini mengambil kredit motor karena untuk menghemat pengeluaran untuk kebutuhan transportasi mereka sehari-hari? spanduk-spanduk itu sepertinya tidak berarti apapun sebagai bentuk aksi penyadaran rakyat, kesannya malah melakukan intervensi, logika yang dipakai adalah kekuasaan belaka!

sekarang ini dapur dan meja makan dalah gambaran penderitaan masyarakat yang pendapatan perkapitanya di bawah standar. orang lebih memilih makan di warung tegal daripada memasak di rumah, karena memasak di rumah lebih boros daripada beli makanan yang sudah matang. apa yang tengah dipikirkan dan dilakukan pemerintah dalam mengelola negara ini? naiknya harga-harga dan berbagai persoalan ekonomi dalam ranah sosial saat ini menjadi buklti ketidakbecusan pemerintah melakukan manajemen pemerintahan, pemerintah gagal melaksanakan mandat rakyat dan amanat undang-undang dasar negara. seperti yang selalu digembar-gemborkan pemerintah kepada rakyatnya untuk menghemat pemakaian bahan bakar, tetapi di jalanan jakarta, pembangunan pom bensin (spbu) terlihat semakin marak, bisnis penjualan bahan bakar bensin dan solar serta bahan bakar gas bersanding dengan maraknya bisnis penjualan motor dan mobil. tentunya ini adalah praktek dari sebuah kebijakan yang salah kaprah.

sepuluh tahun silam, di bulan april seperti ini, jakarta dilanda demam sosial, setiap hari terus menerus mahasiswa melakukan aksi, mulai aksi di kampus hingga di luar kampus. puncaknya adalah 21 mei 1998. setelah kerusuhan merebak di jakarta selama hampir satu pekan, soeharto mengundurkan diri dari jabatannya selaku presiden republik indonesia yang telah berkuasa selama lebih dari 3 dasawarsa. 1998 adalah tonggak sejarah dari cita-cita indonesia yang lebih baik. tetapi apa lacur? setelah sepuluh tahun berlalu? rakyat semakin terjepit persoalan-persoalan ekonomi yang rumit. mahasiswa indonesia, di mana kamu?

dulu awalnya adalah ibu-ibu turun ke jalan membawa berbagai peralatan dapur, menjadikannya perkusi sebagai sarana menuntut pemerintah menurunkan harga-harga. kemudian mahasiswa-mahasiswa turun ke jalan, menuntut penguasa memperhatikan nasib rakyat yang semakin terjepit krisis ekonomi nasional. padahal masa itu, gorengan tempe dan tahu masih seharga seratus rupiah? mahasiswa itu, seperti di film dokumenternya tino saroengalo (STUDENTS MOVEMENT IN INDONESIA) berteriak mengacungkan tinju ke langit. meneriakkan sumpah mahasiswa indonesia. begidik bulu roma saya jika melihat adegan film itu. begidik karena momentum yang heroik atau karena editing filmnya yang dramatik, entahlah… tapi saat itu saya terlibat aktif dalam pergerakan pemuda. saya turut dalam parlemen jalanan. tetapi bukan untuk indonesia yang seperti sekarang ini.

saya mencita-citakan indonesia yang lebih baik, indonesia yang bermartavat, adil makmur sentosa, aman tentram kertaraharja. demokratis di segala bidang, pembangunan merata bagi seluruh rakyat indonesia. tetapi setelah 1998, roda sejarah melenceng bersamaan dengan euphoria demokrasi yang kebablasan. aktivis-aktivis, penggiat partai, eselon-eselon di teras kekuasaan, penguasa politik, bupati, presiden, kabinet dan dpr semuanya keblinger. muntah saya merasakan semua ini. jijik dengan perilaku binatang kekuasaan yang terus menerus setiap hari mereka praktekkan. ini adalah penyakit revolusi. yang bisa saja menghinggapi setiap manusia yang terlibat dalam perubahan sosial. bisa saja menjangkiti setiap manusia yang bahkan tidak terlibat dalam perubaha itu sendiri.

sekarang ibu kita, kakak kita, saudara kita, tetangga dan handaitaulan kita di pelosok kampung dan lorong-lorong kota yang remang sedang mreasakan harga-harga kebutuhan semakin mahal. antri dalam daftar persoalan bulanan yang harus dipenuhi setiap rumah tangga. kini mahasiswa-mahasiswa yang sepuluh tahun lalu turun di jalanan, barangkali sudah lulus atau mungkin do dan tidak lagi aktif di kampus. kini generasi baru yang muda-muda, yang masih berkobar semangatnya memenuhi ruang-ruang kelas yang usang. apakah tidak sadar bahwa kita sedang dalam permasalahan yang besar? makan buku saja tidak cukup… lalu di mana mahasiswa indonesia hari ini?