dalam alam bawah sadar saya tidak akan pernah saya lupa bulan mei 1998.
peristiwa besar yang menghantar perubahan mendasar pada perjalanan bangsa dan negara republik indonesia, tumpah darah dan tanah air saya. 12 mei, ketika senapan menyalak di semanggi, saya ada di bilangan tanah abang. di hotel jati, bersama veteran angkatan 66 yang tak dapat kue pembangunan.
di hari itu, rakyat marah, tidak tertinggal saya dan abang-abang angkatan 66 pun marah pada militer dan polisi yang telah tega membunuh mahasiswa. kami menghantar karangan bunga esok harinya. dan benar-benar hari itu mencekam. ribuan rakyat berkumpul di sepanjang jalan, entah siapa yang pegang komando. mahasiswa di dalam kampus trisakti terus tercekat dalam imajinasi tiananmen. mahasiswa melihat darah, rakyat melihat darah, seharian semalaman televisi tak ada habisnya memutar lagu gugur bunga dan berita duka. lima mahasiswa trisakti mati ditembak aparat keamanan. jakarta geger, jogjakarta geger, surakarta, surabaya dan kota-kota di panatai utara geger. jalur distribusi ekonomi mulai terganggu. massa marah!
dan kami melihat istana negara sepi, hanya ada barisan blokade aparat bersenjata, kostrad dan kopasus, tvri dan rri terlihat siluet warna loreng. hampir tidak bisa membedakan mana marinir, mana kostrad mana kesatuan yang lain? dari mana, siapa? yang saya tahu, jakarta terus geger dan kerusuhan di depan mata, menjalar ke mana-mana menghancurkan dan membumihanguskan segala macam yang berbau cina. toko-toko mulai tutup, orang-orang menulis muslim atau pribumi. mei adalah kelam, sejarah yang hitam dalam perjalanan indonesia menjelang kejatuhan rejim soeharto.
mei 1998 tersimpan rapih dalam memori saya, catatan demi catatan saya tulis sepanjang hari. saat itu, dunia ini seperti kiamat. kebakaran, penjarahan, huru hara meletup seperti tabung gas yang jebol. nyalak senapan setiap waktu terdenagr. ada berita simpang siur, cina diperkosa, cina dirampok, orang terbunuh, swalayan terbakar, mahasisewa dan rakyat tumpah ke jalanan. dan saat itu gedung dpr/mpr adalah sasaran yang dekat. mahasiswa dan rakyat merengsek maju. tidak lagi takut apa itu peluru dan tank. tidak takut lagi apa itu mati. hidup terasa sudah sedemikian sulit masa itu, tidak lagi takut mati karena peluru atau granat. maju terus melawan militer yang pembunuh mahasiswa.
saya berada di antara massa. dihujani peluru dan gas air mata. saya mendengar teriakan yang pedih. dari kerongkongan saya sendiri yang parau. gas air mata dan rentetan peluru itu mencekik salurah pernafasan dan pendengaran saya. tetapi ini kemudian menjadi pengalaman yang kesekian. sebelumnya di bulan april, seorang mahasiswa di jogja juga mati karena siksa tentara di jalanan, tidak bisa dilupakan begitu saja. seorang moses gatotkoco tewas karena kekerasan militer, saat itulah pertama kalinya mahasiswa membakar gambar soeharto. persitiwanya di bulaksumur. mei 1998 adalah hal yang penting dalam hidup saya. peristiwa yang penting. saat itu yang ada dalam benak saya adalah revolusi sudah tiba. perubahan di depan mata. menuju indonesia makmur aman dan sentosa.
kini sepuluh tahun kemudian, setelah melewati masa-masa sulit. melewati peristiwa demi peristiwa sejak kejadian penting itu. peristiwa semanggi dan seterusnya, menginjak sepuluh tahun sesudahnya. indonesia berubah semakin terpuruk. gawang ekonomi, stabilitas nasional hankamrata bobol terus terusan. seperti tidak ada orang pintar di negeri ini. semuanya menjadi gagal dan gagal. hutang dan hutang, kemudian ambles dan terpuruk. kejadian bencana alam dan kelaparan, penistaan dan huru hara terus berlangsung. saya menganggap sepuluh tahun ini, dalam peringatan tewasnya lima mahasiswa tri sakti hari ini, semangatnya sudah berbeda. sepuluh tahun membiarkan indonesia terpuruk tanpa keadilan dan pemerataan kesejahteraan. negeri ini terus menerus tunduk pada kepentingan modal dan investasi yang menggadaikan negara dan rakyatnya. reformasi total gagal total. dan hari ini adalah peringatan atas kegagalan itu.
saat itu ketika hari berikutnya mahasiswa menguasai gedung dpr/mpr, saya membawa sebuah anak tangga, menjebol anak tangga itu dan mengangkatnya ke arah belakang gedung hijau. bersama mahasiswa-mahasiswa berjaket alamamater hitam, saya memasang anak tangga besi itu, saya pertama kali naik, seorang wartawan AFP mendokumentasikan peristiwa itu. dan pertama kalinya dalam hidup saya, menyaksikan ribuan massa mahasiswa di lapangan bawah dengan warna warni jaket almamaternya. saya mengepalkan tangan, beteriak teriak tak karuan. mengumandangan revolusi, mengumandangkan semangat aksi melawan!
hari ini saat saya mengenang itu, jakarta terus berubah. tak tertarik lagi saya memperingati peristiwa itu di jalanan. sebab, jalanan sudah tiak sakti lagi. jalanan berubah jadi konspirasi elitis yang memuakkan.
tadi pagi saya buka koran tempo, sarbini, alex, ardian, syafik dengan foto tertanggal 6 mei 2008 terpajang dengan mimik muka masing-masing. ditulis di situ mereka adalah tokoh-tokoh penggerak massa aksi sepuluh tahun lalu. saya rasa, dunia terus berputar, iklan di jalanan merebak seperti kacang goreng. besok sehari lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, tiga bulan lagi, setahun lagi, tahun depannya lagi, orang sudah makin lupa dengan ibu-ibu kampung yang bikin dapur umum serta sopir-sopir mikrolet dan metromini, kopaja yang dengan tulus iklas sempat mengantarkan mahasiswa memasuki gerbang perubahan. kini bensin makin mahal, solar makin mahal. keluarga kita terancam kelaparan dan putus sekolah…
quo vadis reformasi? fatamorgana!