Membuka kembali catatanmu //

Pada Minggu pagi yang cerah //

Usai malam Purnama //

Buku bergambar Brotoseno //

Kebangkitan timur //

Segala gelisahmu //

Perjalanan dan pelabuhan-pelabuhan //

Bukan singgah kepada peluk pangkuan gadis pujaan //

Tetapi berpikir dan menuliskan catatan revolusi //

Penamu mengembara jaman //

Catatan-catatan yang hilang //

Jembatan kuda //

Madilog //

Dari Penjara ke Penjara //

Naar de Republik //

Siasat //

Manivesto-manivesto //

Waktu itu muda remaja //

Kelana dan buku-buku //

Meninggalkan surau dan kitab-kitab usang //

Rumah gadang kenangan masa kecil //

Perburuanmu //

Diburu //

Membaca karyamu bagaikan melongok gelombang //

Yang berdebur di pantai bebatuan //

Melintasi jaman //

Bukan berarti tubuh yang hilang //

Bukan berarti harus tercatat sejarah //

Perjalananmu sepi sendiri //

Melenggang pada lintasan sejarah yang memukau //

Tentu tak banyak kisah diceritakan //

Di balik peristiwa-peristiwa besar //

Dari Pegangsaan Timur pada jam 10 tanggal 17 Agustus 1945 //

Hingga Peking, Moscow dan Jerman //

Menginjakkan kaki pada batas-batas wilayah pelarian //

Di ruang kelas dan belantara gerilya //

Ah…pagi ini aku menyelam di antara pekat ampas kopi hitam //

Terbata-bata aku menjemput sejarahmu //

 

Gambar

Revolusioner

 

34# Count My Blessing!

17 April 2012

Gambar

17 April 2012…

HOPLAAAA! Aku hadir!

Segenap puji syukur dan sujudku kepada Gusti Allah Ingkang Murbeng Dumadining Jagad, segenap terimakasihku kepada Ibunda tercinta  atas doa-doa beliau, segenap terimakasihku kepada almarhum ayahku yang telah memperkenalkan keberanian dan kata berjuang kepadaku serta menanamkan bibit bakal semangat hidup. Terimakasihku kepada saudara-saudaraku, kepada perempuan yang mencintai dan berkenan mendampingiku, kepada sahabat-sahabat yang telah bersedia memahami segala gelisahku, segala gulanaku…

Secangkir teh dan sigaret menemaniku. Swami menyanyikan lagu HIO di Youtube.

Ketika mencari lagu yang tepat untuk retrospeksi, aku rasa lagu itu paling cocok untuk dini hari ini. Di ruangan kamar kontrakan, dengan headphone terpasang di kedua telingaku, itulah kemerdekaan.

Mengenang segala peristiwa perjalanan, membaca kembali catatan harian, mendata kembali kehilangan dan pertemuan, kemudian menulis. Tidak ada lain yang kulakukan kecuali memanjatkan segala puja dan puji syukur.

Segala duka, segala sukacita adalah berkah.

Segala manis, segala pahit kehidupan adalah dinamika.

Segala rasa itu hadir untuk mendidikku menjadi manusia yang seutuhnya.

34 tahun ini, telah banyak perjalanan yang memberikan pelajaran berharga dalam hidup. Pada setiap nafas menjadi ucapan syukur. Pada setiap denyut nadi adalah doa keselamatan. Dan aku terus mencari pencerahan demi pencerahan dari Mu.

Menjaga kehidupan. Aku mau

Mencintai kehidupan. Aku mau

Berjuang. Aku mau

Kebajikan, kebaikan. Aku mau

Berbagi. Aku mau

Aku teringat surat dari seorang sahabatku Philip Cheah sekaligus kritikus filmku. Ada sepenggal catatan di dalam suratnya yang berbunyi

“Count your blessing, Daniel”

Kalimat yang sederhana, singkat namun seperti pukulan samber geledek Wiro Sableng 212. Seringkali aku lupa untuk menghitung berkah kehidupan. Padahal itulah jembatan kepada tugas pribadiku sebagai manusia: mengucap syukur.

Gusti Allah, Matursembahnuwun…Terimakasih atas segala berkat selama 34 tahun ini…

Kepada Mu SEJATINYA KEMERDEKAAN itu!

HAJI MISBACH YUSABIRAN

11 April 2012

Catatan Pagi Darurat Seorang Murid

Pagi ini sebelum saya melakukan ritual secangkir kopi dan sebatang sigaret, di pesawat seluler saya masuk sebuah pesan singkat dari Hafiz Rancajale yang menyampaikan pesan, Pak Misbach meninggal, pagi ini pukul 07.00. Sebarkan…

Pesan itu merupakan kejutan kecil pagi ini, setelah kemarin sempat berdiskusi lewat telepon dengan Bang Arturo GP dan Mas Garin Nugroho berkaitan dengan kronik sinema Indonesia. Bang Atung sempat menyampaikan kabar Pak Misbach sedang sakit. Saya juga ingat, ketika di suasana Malang Film Festival kemarin sempat begadang dan berdiskusi dengan beberapa komunitas film; Yaniel, Arfan, Nopek dari Kine Klub UMM Malang termasuk Ismail Basbet dan Suryo dari Hide Project Indonesia, salah satu nama yang kami sebut adalah Pak Misbach. Rencananya kami akan berkunjung dan melakukan perekaman gambar aktivitas pak Misbach di rumahnya.

Haji Misbach Yusabiran adalah sosok yang melintasi batas generasi. Ia bersentuhan dengan sejarah Usmar Ismail, ia berada di beberapa generasi film pasca revolusi kemerdekaan 1945.

Saya membagi masab perfilman Indonesia menjadi beberapa bagian generasi
1. Generasi 1945, pada masa Usmar Ismail dan Djamaludin Malik
2. Generasi Rusia pasca 50an yaitu generasi Sjumanjaja yang merupakan digagalkan oleh polemik kebudayaan 65 akibat pertikaian ideologis antara LEKRA dan MANIKEBU
3. Generasi post polemik kebudayaan post 65 saya sebut masab sanggar, seperti Arifin C Noor dan Teguh Karya yang bersanding dengan generasi film karir seperti Wim Umboh
4. Generasi post Sanggar yaitu post 70 an yang hanya sebentar seperti Slamet Raharjo dan Eros Djarot
5. Generasi Akademik 80 an seperti Garin Nugroho dan Gotot Prakosa yang bersanding dengan generasi film Bupati dan Sekwilda (Buka paha tinggi-tinggi dan sekitar wilayah dada) yang hadir pada masa carut marut kebangkrutan bioskop lokal dan hadirnya televisi sebagai pengganti media hiburan bioskop
6. Generasi post Garin yaitu generasi i sinema seperti Riri Riza, Rizal Mantovani, Nan T Achnas dan Harry Dagu Suharyadi
7. Generasi Komunitas film seperti generasi Hanung Bramantyo dan Ifa Ifansyah.

Pada pembagian generasi yang singkat tersebut, saya melihat kehadiran Haji Misbach Yusabiran sebagai bagian dari sejarah sinema Indonesia. Ia tak terpisahkan oleh dunia sinema Indonesia. Pengabdiannya di dalam ranah penulisan skenario film merupakan pengabdian yang luar biasa. Patut mendapatkan pengakuan yang setimpal dengan jasa-jasanya.

Di kampus saya, Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, saya termasuk beruntung pernah mengasup ilmu dari Pak Misbach, mengikuti kelas penulisan scenario yang beliau isi dengan materi penulisan scenario drama. Kami sempat berdiskusi tentang banyak hal yang terkait dengan generasi Usmar Ismail. Dari beliaulah saya kemudian memahami arti penting sejarah sebagai jalan merunut kualiatas karya film dari jaman ke jaman.

Kini, pak Misbach berpulang kepada Sang Pencipta. Bertemu di alam sana bersama pak MD. Alief, dosen sejarah film Indonesia, pak Chalid Arifin dosen Sejarah Sinema Dunia, bertemu dengan Pak Sumardjono guru kuliah editing, bertemu dengan Pak Tom guru sinematografi nama-nama yang saya sebutkan tadi pasti jarang dikenal di perfilman Indonesia generasi kekinian, ya mereka tidak populer pada generasi ini, akan tetapi tanpa mereka saya bisa pastikan perfilman Indonesia tidak akan hidup berjuang seperti sekarang ini.

Berpulangnya Bung Misbach meninggalkan catatan-catatan dari masa ke masa, ia adalah roman itu sendiri dan kini, sepertinya aku mesti menziarahi Usmar, menziarahi Asrul Sani, menziarahi MD Alief, menziarahi Chalid Arifin, menziarahi Arifin C Noor, menziarahi G Dwipayana, menziarahi Tom Gandasubrata, menziarahi Sumardjono, menziarahi Sjuman, menziarahi perfilman Indonesia….

MERDEKA!

Gambar

JIKA WAKTUNYA TIBA

10 April 2012

BERJUANG!

MELAWAN! 

Walau kau ribuan Kurawa

 

KUBERJUANG!

MELAWAN! 

 

kau tiran yang kembali!

JIKA WAKTUNYA TIBA

10 April 2012

BERJUANG!

MELAWAN! 

Walau kau ribuan Kurawa

 

KUBERJUANG!

MELAWAN! 

 

kau tiran yang kembali!


Gambar

Jika hujan

Bolehkah aku singgah

Pada taman kota dan pohon-pohon rindangkan malam

Di sudut gelanggang remaja

Masjid

Di kala isya empat raka’at kepada Mu

Dan kesenian

Obrolan soal-soal film

Sekretariat panitia yang kosong

Gelas-gelas kopi yang kandas 

Asbak dan puntung rokok jejak perdebatan dan diskusi sore

……………..aku ingin melukis…………………

Melukis hujan yang turun di Bulungan

Membasuh dedaunan

Mengobati dahaga tanah

Doa-doa

Malam semakin jauh merambat

Kesenian

Menyelam sampai dasar gelas-gelas kopi yang kandas

Film, kamu, hujan, malam

Tampias hujan 

Dedaunan menari

Aku, kamu, hujan, malam

Beribu mil ngobrol estetika…

DRH, 26 Maret 2012

Bulungan, menjelang pembukaan Festival Film Pendek Jabodetabeka 2012

Catatan asli dari OPINI yang diterbitkan REPUBLIKA, Senin, 7 Maret 2011

Gambar

 

 

SEANDAINYA INDONESIA TANPA HOLLYWOOD

Polemik yang terjadi antara Grup 21, MPA (Motion Picture Asociation) dengan Pemerintah telah menyeret polemic pendapat dan sikap para penggiat perfilman Indonesia. Pro dan kontra terjadi antara mereka yang membela kepentingan Grup 21 dan mereka yang membela kepentingan pemerintah, dalam hal ini Dirjen Pajak dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Masyarakat penonton penikmat film Hollywood di Indonesia dan sebagian penggiat perfilman menganggap penarikan film Hollywood di Indonesia sebagai pembunuhan terhadap dua hal:

  1. Pembunuhan apresiasi film. Hal ini beralasan karena masyarakat penonton telah terbiasa dengan kuantitas, kualitas teknis dan kualitas konten cerita film Hollywood. Sementara film Indonesia belum sepenuhnya mampu bersaing memenuhi kualitas dan kuantitas sekaliber film Hollywood. Film Indonesia tidak menumbuhkan apresiasi yang bermutu pada penonton karena film yang beredar hanya menyuguhkan kualitas teknis yang rendah dan cerita yang berkutat pada kisah hantu dan sex. Realitas ini memunculkan kondisi ketidak percayaan masyarakat penonton terhadap film Indonesia.
  2. Pembunuhan film Indonesia. Bagi penggiat produksi film Indonesia, studio 21 merupakan ruang distribusi vital. Penarikan film Hollywood dari peredaran pada satu sisi dapat dilihat sebagai peluang bagi penggiat perfilman Indonesia untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penonton, namun pada sisi lain, ketidak percayaan publik terhadap film Indonesia akan menciptakan ruang ambiguitas untuk bisnis film Indonesia di bioskop 21. Selama ini posisi film Indonesia masih sebatas “Pendamping” film Hollywood.

Dua hal di atas memberikan gambaran yang nyata akan kondisi perfilman Indonesia yang belum memiliki pijakan kuat untuk bangkit dari keterpurukan. Kualitas dan kuantitas film Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri apalagi bersaing di percaturan perfilman global.

Thailand dapat menjadi contoh yang tepat dalam pelaksanaan kebijakan perfilman. Sebagai contoh selama tahun 2001 hingga 2002 Thailand mengalami peningkatan signifikan dalam produksi film. Kebijakan progresif otoritas perfilman Thailand membuka peluang bisnis film yang mampu meningkatkan anggaran produksi dari 450 juta baht mencapai 1,5 milyar baht. Sekitar 400-480 judul film diproduksi di Thailan pada periode itu. Negara tersebut berorientasi pada market global untuk mengedepankan kepentingan masyarakat perfilman di dalam negeri. Sehingga dalam bulan kedua di tahun 2003, sekitar 80 judul film diproduksi di negeri Gajah Putih tersebut.

Kebijakan progresif tersebut merupakan hasil ketegasan pemerintah Thailand sebagai garda depan pemangku kebijakan dan masyarakat penggiat perfilman yang mendukung kebijakan pemerintahnya. Selain itu, pemerintah Thailand mendukung penuh potensi perfilman dalam negerinya untuk meraih prestasi global. Munculnya film-film Thailand yang meraih penghargaan dan pengakuan di berbagai festival film internasional membuka prospek bagi bisnis film pada tataran global. Jika dibandingkan dengan pencapaian Thailand, di tahun 2010, data perfilman Indonesia hanya mencatat kuantitas produksi 100 judul film. Dari jumlah tersebut kualitas teknis dan konten belum mampu bersaing di tataran internasional.

Apa yang terjadi di Thailand tidak terjadi di Indonesia, modal pembangunan perfilman dari pajak film impor tidak terkelola dengan bijak.  Indonesia sangat tertinggal dalam pelaksanaan kebijakan di bidang perfilman. Jika melongok perfilman Thailand, semestinya Indonesia berpeluang  membangun perfilmannya dengan lebih baik. Pajak tontonan dan pajak keuntungan dari para pelaku bisnis film seperti Grup 21 semestinya dapat menjadi modal besar untuk mengembangkan potensi perfilman dalam negeri. Namun hingga saat ini pelaku perfilman harus berjuang sendiri untuk menghidupkan perfilman Indonesia dengan segala keterbatasan dana, teknis dan kontens.

Jika Indonesia tanpa film Hollywood, potensi apa yang dapat dikembangkan untuk mendukung perfilman Indonesia supaya menjadi tuan rumah di negeri sendiri?. Pertanyaan ini menjadi kekawatiran di kalangan penggiat perfilman di Indonesia, mengingat Grup 21 dan MPA adalah penyedia jasa ruang distribusi dan eksibisi utama di Indonesia. Dari kenyataan tersebut posisi tawar pemerintah sebagai penentu kebijakan perfilman pun menjadi dilematis. Dengan ketiadaan film Hollywood maka pemerintah menghadapi pekerjaan rumah yang sangat besar dan beresiko tinggi. Pekerjaan rumah tersebut adalah membangun Infra struktur dan supra struktur perfilman Indonesia.

Thailand merupakan negara yang luas wilayahnya hanya seperempat luas Indonesia, jumlah penduduknya sangat kecil dibandingkan dengan Indonesia yang telah mencapai 235 juta penduduk. Dengan demikian persebaran bioskop di Indonesia dan animo masyarakat penonton akan jauh lebih besar di Indonesia dibandingkan dengan Thailand. Semestinya kenyataan ini menjadi pijakan awal bagi negara untuk menentukan langkah ke depan yang lebih kongkret untuk membangun perfilman di Indonesia sehingga slogan film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri menjadi keniscayaan.

PemerintahThailand mampu “mengendarai” Hollywood dan mengawinkan strategi bisnis dan strategi budaya untuk mengembangkan perfilman. Indonesia yang memiliki  potensi wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar semestinya mampu mengelola perfilmannya secara mandiri, dengan atau tanpa film Hollywood sekalipun. Jika strategi bisnis dan strategi budaya dimiliki penentu kebijakan perfilman.

Kita sama- sama menunggu, strategi apa dan langkah-langkah kongkret apa yang akan dikerjakan pemerintah untuk menyelamatkan perfilman Indonesia berikut potensi yang ada. Seberapa siap dan seberapa berhasil pemerintah mengkonsolidasikan potensi perfilman Indonesia. Dengan demikian, jika MPA dan Grup 21 benar-benar menarik distribusi film Hollywood di Indonesia, dengan gagah berani kita dapat lantang bicara seperti halnya Usmar Ismail, Bapak perfilman Indonesia pernah berseru, Sinema Indonesia, Bung!

Daniel Rudi Haryanto

Koordinator pelaksana Lembaga Kajian Cinema Society

Peraih Director Guild of Japan Award, YIDFF 2011

 

19 Februari 2011

Gambar 

 

(CATATAN  06 Juli 2010 yang diterbitkan kembali)

 

FADE IN

FADE OUT

 

OPENING:

Dari Youtube terlihat tayangan video klip BEATLES…

 

The wild and windy night

That the rain washed away

Has left a pool of tears

Crying for the day.

Why leave me standing here?

Let me know the way.

(The Long and Winding Road, BEATLES)

 

Barangkali JDR (John De Rantau) mengalami suasana dalam syair lagu itu pada malam-malam sepi setelah premiere film Obama Anak Menteng.

 

Malam yang berangin liar

Hujan tersapu angin

Meninggalkan jejak genangan air mata

Tangisan hari ini

Mengapa membiarkan aku sendiri?

Tunjukkan aku jalan

 

Maka, perasaan John sang perantau itu juga dirasakan oleh orang-orang film Indonesia yang dihadapkan pada suatu realitas kepentingan modal yang absolut. Film bukan lagi pembahasan dalam ruang kelas sinematografi, film tak layak lagi mendapat tempat dalam tradisi kritik intelektual, film bukan suatu pesan cultural, film tidak lagi suatu karya yang kusyuk, film lepas dari kejujuran ide, sama seperti wajah Indonesia hari ini, Film di satu sisi mengumbar “kemaluan” karena hilangnya martabat seorang kreator namun di sisi lain memenuhi kebutuhan perut yang terus menggelar konser kerontjong jaman edan.

 

Saya menamakan ranah perfilman Indonesia sebagai hutan rimba, alam liar yang dihuni homo homini lupus, binatang pemakan segala yang saling memakan sesama. Bagaimana tidak? Di dalam hutan rimba alam liar perfilman Indonesia ini pekerja-pekerja yang memiliki kemampuan berfikir dan olah rasa serta ide kemudian berhadapan dengan sistem yang brutal. Kasus OAM (OBAMA ANAK MENTENG) merupakan kasus paling mutakhir saat ini. Sutradara yang semestinya dihargai harkat (harga diri dan bakat-bakat) serta martabatnya, kini tiada lagi memiliki posisi tawar (bargain). Apresiasi itu dapat dilihat dari apa yang tertera dalam kesepakatan kontrak kerja.

 

Kasus OAM dan Sutradara tandem itu adalah pelajaran berharga yang kesekian kali bagi para penggiat perfilman. Produser, Sutradara, Direktur fotografi, Direktur Art, Penulis skenario, Penata suara, Penata lampu, Pembuat Behind The Scene, Editor, Penata Rias, Penata kostum, Pimpinan Produksi, Unit Produksi, penjaga genset, Pembantu umum. Tidak hanya yang profesional dengan garapan budget besar atau yang masih amatir menggarap Weding Cinematography.

 

Kontrak kerja merupakan dasar dari segala hubungan kerja yang menyepakati hak dan kewajiban dari beberapa pihak yang terlibat dalam kontrak tersebut. Jika muncul suatu permasalahan pada film tersebut. Dalam hal ini kita membahas kasus sutradara mendadak tandem antara JDR dan Damien Dematra. Jika JDR tidak pernah dikonfirmasi atau diajak bicara oleh Raam Punjabi selaku Produser perihal Damien, berarti JDR adalah pihak yang dizalimi. Maka wajib hukumnya, bagi kita semua untuk membela hak JDR di hadapan hukum. Namun akan berbeda jika JDR telah sepakat dengan Raam punjabi untuk menempatkan DD sebagai sutradara kedua dalam film itu, dalam hal ini kita tidak memiliki kewajiban untuk mengurusi persoalan internal perusahaan mereka.

 

Jika peletakan DD di film itu sebagai sutradara tandem bersama JDR tanpa kesepakatan, maka itu dapat disamakan dengan seseorang yang diberi gelar Profesor tanpa proses akademis. Kalaupun Doktor Honoris Causa disematkan kepada seseorang, itupun ada proses pengujian melalui dedikasi seseorang itu pada suatu bidang. Semisal pelukis Affandi almarhum, beliau mendapat gelar Doktor Honoris Cusa karena dedikasinya kepada dunia seni lukis Indonesia.

 

Raam Punjabi adalah “pemain bisnis film lama” dia boleh dibilang kawakan di bidang itu. Semestinya tidak disangsikan lagi kiprahnya dan kredibilitasnya. Hingga kasus sutradara tandem yang bermasalah ini muncul, satu pertanyaan besar yang muncul adalah; Bagaimana kesepakatan antara JDR, DD dan RP dalam masalah ini?

 

Perfilman Indonesia bukan soal itu saja, persoalan besar dan kecil masih banyak, semuanya belum tuntas. Dari urusan kontrak kerja, kesejahteraan karyawan film dan televisi, keselamatan kerja, hak cipta, organisasi karyawan film dan televisi, organisasi produser, organisasi bioskop, organisasi mahasiswa film, sekolah film, soal-soal di lapangan produksi, soal-soal bisnis film, soal-soal investasi film, peredaran film berikut monopolinya, kebijakan perfilman, BP2N, Sensor film, undang undang dan peraturan perfilman dan masih banyak lagi masalah yang tidak terbahas dan tak tuntas.

 

Persoalan ini menjadi blunder ketika orang-orang yang bekerja di perfilman Indonesia tidak memiliki kemauan untuk membahas dan menyelesaikannya. Dedikasi bagi perfilman Indonesia, dedikasi kepada karya, dedikasi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga; anak sekolah, susu dan kebutuhan dapur juga sama sama perlu, akan tetapi jika persoalan-persoalan di atas tidak terbahas dan tidak terselesaikan, maka orang orang film Indonesia akan terus mengeluh dan hanya sebatas grundelan orang film saja.

 

Tidak banyak buku atau artikel yang mengupas tentang soal-soal itu, hal ini bisa jadi karena tidak adanya relasi yang berkesinambungan antara praktisi film, pemikir film, penentu kebijakan film, pemberita film.

 

Seringkali di lokasi shoting banyak terdengar gerundelan tentang carut marutnya sistem produksi, distribusi dan eksibisi film indonesia. Namun seberapa jauh orang film mampu menjembatani dan menyelesaikan gerundelan itu? Tidak ada bukti soal-soal itu selesai dengan tepat. Jika dibandingkan dengan Hollywood, ya terlalu jauh, tetapi cobalah ambil contoh Cina, Korea Selatan, Thailand. Mereka selangkah demi selangkah berhasil mentransformasikan solusi perfilman mereka menjadi kontribusi yang baik dalam kultur sinema mereka. Maka layak jika negara-negara itu kemudian masuk dalam halaman buku besar The World Hostory of World Cinema. Sementara Indonesia, terseok-seok di pinggiran sejarah sinema dunia, tragisnya tidak pernah terbaca.

 

Saya hanya ingin menyampaikan, di hutan rimba liar perfilman Indonesia ini, kita dihadapkan pada suatu realitas pelik. Sebab organisasi perfilman mandul. Padahal organisasi itu adalah rumah tempat kita berkumpul, membahas soal-soal sebagai kesatuan keluarga besar orang film Indonesia. Sebenarnyalah orang-orang film Indonesia sekarang ini hanya melanjutkan dan memperbaiki sistem yang ada, itupun tidak pernah terjadi. KFT pecah belah, BP2N tak berdaya, Jero Watjik omong kosong, PH PH krisis uang, karyawan film bagai domba yang hilang, produser mumet bengkak budget, undang-undang perfilman tak melihat kondisi obyektif, komunitas film saling klaim, film film tanpa kualitas, para penonton film tidak tahu apa apa, mahasiswa film sibuk nyari kerja balikin modal kuliah, sekolah film asyik dengan autisnya, kurator film dimabukkan teori teori barat yang tidak membumi, film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

Maaf komputer saya ajah sampe kena VIRUS FILM!!!

Beginilah nulis tanpa kopi dan sigaret. ancur ancuran!

 

GUNUNGAN KI DALANG MASUK KE LAYAR

LAKON GAGRAK MATARAMAN

Goro goro selesai

 

FADE OUT

CREDIT TITLE

 

Daniel Rudi Haryanto

Pekerja Film Indonesia

Mahasiswa Crash Boom Bang eh maaf Crash Program FFTV IKJ angkatan 2

Anggota Karyawan Televisi (KFT) ( Udah bayar iuran 3 tahun lalu, kartunya belum jadi jadi)

 

 

KOPI MALAM

19 March 2012

Apa itu rejeki?

Apa itu berkah?

Mengapa manusia meminta rejeki?

Mengapa manusia meminta berkah?

 

Hari ini sering terdengar orang berdoa kepada Tuhannya untuk meminta sesuatu:

 

“Tuhan, saya mohon berikan kepada kami berkah bla bla bla”

“Tuhan, saya mohon berikan kepada kami rejeki blab la bla”

“Tuhan, saya mohon  berikan kami jalan bla-bla bla”

“Tuhan, saya mohon berikan karunia kepada kami bla-bla bla”

 

Siapa manusia yang mau hidup miskin dan menderita?

 

Seringkali rejeki diterjemahkan sebagai uang

Seringkali berkah diterjemahkan sebagai harta benda dan kekayaan

Seringkali manusia meminta rejeki tanpa merinci kebutuhannya

Seringkali manusia meminta berkah tanpa merinci untuk apa berkah itu

 

Manusia meminta berkah, sementara di alam semesta ini telah disediakan berbagai macam potensi untuk memenuhi kebutuhan manusia;

 

-       Laut

-       Sungai

-       Danau

-       Hutan

-       Udara

-       Tanah

-       Sinar Matahari

-       Rembulan

-       Bintang-bintang

 

Di tempat-tempat yang disebutkan di atas telah tersedia air, tanah, tumbuh-tumbuhan yang memenuhi kebutuhan akan buah-buahan, makanan dan obat-obatan, udara, api dari sumber matahari, cahaya untuk menerangi kegelapan di malam hari dari rembulan.

 

Lantas manusia membutuhkan apa lagi? Dari apa yang telah ada itu semestinya manusia mengolahnya untuk kebutuhan hidup.

 

“Tetapi semuanya sekarang harus beli!” Kata seorang kawan

 

Mengapa harus membelinya? Milik siapakah segala potensi itu?

 

Hari ini manusia sibuk bayar kredit. Dari mulai kredit Bank untuk biaya menghidupi perusahaan dan bisnis, kredit rumah, kredit mobil sampai kredit rice cocker dan kredit handphone.

 

Kebutuhan manusia terhadap benda-benda itu ternyata merubah paradigm doa. Kalau dulu sebelum adanya benda-benda itu manusia berdoa dengan permintaan sederhana, minta keselamatan, minta pengampunan atas segala kesalahan dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan dalam bentuk segala potensi alam semesta, tetapi kini manusia berdoa supaya dapat rejeki, dalam bentuk uang untuk bisa membayar kredit atau utang.

 

Barangkali Tuhan tersenyum mendengar setiap saat manusia berdoa meminta sesuatu. Semakin bertambah jumlah populasi manusia, semakin manusia menganggap peradabannya semakin maju, semakin banyak pula permintaan pada doa-doa.

 

Bill Gate adalah orang terkaya di dunia. Apakah dia pernah berdoa? Lantas bagaimana doanya?. Ada satu pemimpin agama tertentu mengatakan bahwa doa orang kafir tidak akan diterima oleh Tuhan. Dalam agama tertentu itu bisa jadi Bill Gate adalah orang kafir, tetapi mengapa dia “mendapatkan” posisi sebagai orang terkaya di dunia?

 

Jika Tuhan Maha Kaya, maka Tuhan memiliki segalanya. Tuhan bukan Maha Kikir, dan saya rasa sifat Kikir tidak ada pada Tuhan. Alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan untuk diolah sebesar-besarnya kebutuhan manusia. Namun pada akhirnya kerakusan manusia menenggelamkan dirinya sendiri.

 

Memang menjadi lucu mendengar di setiap rumah ibadah, manusia selalu menyampaikan permintaan kepada Tuhannya. Manusia tidak pernah mendengar suara Tuhan dan tidak pernah melihat karya Tuhan.  Sehingga ada pertanyaan begini

 

‘Suara Tuhan yang bagaimana?”

 

Saya merenungkan pertanyaan itu, pada saat saya melihat laut berikut kekayaan yang terkandung di dalamnya, saya berada di dalam hutan belantara dan menjumpai kekayaan di dalamnya, saya memandang rembulan di kala malam dan menemukan cahayanya pada permukaan kulit saya, saya berteduh di bawah pohon dan menemukan bias cahaya matahari di permukaan danau yang tenang serta permukaan air yang mengalir dan di dalamnya ikan dan udang. Suatu kali saya mengikuti pelayaran dan menemukan pemandangan nelayan bergembira mendapatkan banyak ikan dan rumput laut. Burung-burung terbang bebas, segala ungags di permukaan bumi. Angin menghantarkan perjalanan, musim berganti dan begitu pula tanaman berbuah sesuai dengan musimnya.

 

Buah jeruk dan anggur banyak terdapat di tempat yang tandus, buah kelapa menyebar di seluruh pantai bumi, pohon-pohon kayu keras menjadi perahu dan kapal-kapal besar. Dari sanalah saya menemukan keajaiban hidup.

 

Manusia berkelana di seluruh bumi, belajar tentang banyak hal. Keajaiban hidup yang saya temukan itulah bahasa yang mesti diterjemahkan melalui pendengaran dan melalui cara pandang.

 

Hari ini, banyak doa minta rejeki, minta berkah. Alangkah sibuknya Tuhan mendata utang bulanan umat manusia. Dari mulai sebatas kebutuhan bayar kos sampai kebutuhan bayar apartemen.

 

Mengapa banyak yang mengeluh doanya tidak terjawab?

 

“Kan sudah disediakan semua? Mau rumah tinggal bikin, mau makan tinggal tanam, mau minum tinggal ambil, mau ikan tinggal pancing, mau apa lagi? Semua sudah ada”

 

Saya menemukan itu pada sebuah masyarakat Wana yang tinggal di hutan Morowali, Sulawesi Tengah.

 

“Di mana mata memandang hamparan hutan, sungai, danau itulah tanah kami”

 

Itulah orang Wana, kaya raya luar biasa.

 

Namun saya menemukan kenyataan, ketika orang Wana kemudian menetap di sebuah kampung, tanahnya tidak begitu luas, mereka kerja di kebun Sawit dan menjadi buruh, lantas keluar suara-suara keluhan, sebab kulkas yang dibeli sekian tahun yang lalu belum lunas bayar kreditnya.”

 

Saya merasa itulah persoalan umat manusia hari ini.

 

“Jalan itu sudah ada, cahaya itu sudah ada, rejeki itu sudah tersedia, berkah itu sudah ada”

 

“Kuncinya hanya satu, berucap syukur dan jangan pernah punya banyak hutang!”

 

Saya terpukau dengan bisikan yang dibawa angin malam semilir pembawa gerimis mala mini. Seberapa pandai manusia menterjemahkan tanda-tanda semesta?

 

Ingin rasanya segera pergi mencari tempat sepi, mengolah tanah, menanam, menuai dan menikmati rejeki dan segala berkah itu tanpa memikirkan apakah masih perlu listrik, laptop, kamera, atau nonton film layar lebar yang lakonnya saling membunuh seperti Kain dan Habil…

 

Nah!

 

 

 

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 312 other followers